Menanam Benih di Rahim Ibu dan Adikku Chapter 1

A+ A-

Cerita Sex Bersambung Menanam Benih di Rahim Ibu dan Adikku

Kisah Menanam Benih di Rahim Ibu dan Adikku Chapter 1

? NOVELBASAH ? Perlahan matahari mulai tenggelam, cahaya lampu pijar mulai menerangi rumah masing-masing. Tapi tetap bau sampah masih terus bergerak mengikuti arah angin, masuk kerumah, ke lobang hidung dan kemana pun angin membawanya, aroma sampah busuk akan mengikutinya.

Sayup-sayup terdengar suara azan dari kejauhan, terus menggema di masjid-masjid. Keluarga kami memang keluarga miskin, tapi bukan berarti jauh dari agama, kedua orang tuaku terlihat sangat religius rajin beribadah. Aku kadang sembahyang kadang tidak, ter digantung moodnya.

Ayah ibu sangat baik kepadaku juga kepada Nita, ku lihat ibu masih sembahyang Maghrib dan ayah kulihat sedang merenung diluar, dengan sebatang rokok kretek yang dijepit diantara jarinya. Lalu aku hampiri ayahku dengan membawakan segelas kopi pahit kesukaannya.

“Ayah, ini kopinya. Ngerokok rasanya kurang pas kalau tak ada kopi yah..” kataku kepada ayah, sambil meletakkan kopi panas yang masih mengepul uapnya.

“Makasih nak, pantesan ayah merasa ada yang kurang. Kamu memang putra ayah yang pandai menyenangkan hati orang tua nak, ngomong-ngomong bagaimana Nita sudah baikan?”

“Alhamdulillah sudah mendingan yah, malah sudah bisa duduk sendiri dikasur”

“Jaga adik kamu ya Rama? Adik kamu itu pemalu jarang bermain dengan anak sebayanya. Dia lebih dekat dengan kamu daripada ayah dan ibu, nita-nita! Udah gede masih manja sama kakaknya”

“Mungkin memang sedari kecil yah, saya dan Nita selalu bersama. Jadi sekarang tak mau ditinggal sendirian.”

“Iya bapak juga tahu itu, bapak akui memang jarang memperhatikan kalian. Tapi mau bagaimana lagi, kehidupan kita ditakdirkan hidup susah, bapak harus terus bekerja untuk keluarga. Bapak harap kamu bisa melampaui ayah kelak nak, juga bapak titip adik kamu ya?”

“Baik pak, Rama juga berharap bisa merubah nasib. Kalau begitu Rama ke kamar dulu pak, takut Nita kenapa-napa..”

Lalu aku pun masuk kedalam rumah, berpapasan dengan ibu yang baru saja keluar dari kamar Nita.
“Rama, Nita adik kamu manggil-manggil kamu tuh! Padahal baru ditinggal sebentar apalagi kalau ditinggal pergi jauh.” Kata ibu.

“Maklum Bu, adik satu-satunya. Jadi agak manja hehee..” kataku kepada ibu sambil menutup pintu kamar, langsung menemui Nita.

“Kak Rama kemana aja sih?! Aku tungguin dari tadi..” kata adikku cemberut.

‘iya bener kata ayah ibu, Nita sebenarnya sudah gede, paudaranya sudah tumbuh mengkal, pantatnya juga bulat padat. Eit! Tunggu?! Payudara? Bener juga kenapa aku jadi panas begini lihat payudara adikku. Masa aku nafsu sama adikku sendiri?! Penisku pun tiba-tiba tegang!’ gumamku dalam hati.

“Iiihh! kakak ditanya malah bengong, tadi siang kakak udah janji lho mau tidur bareng”

“Maafin kakak dek, tadi abis ngobrol sama ayah sebentar. Jangan marah nanti cantiknya ilang lho..!”

“Iyaaa iyaa Nita maafin, sini kak ke kasur” kata nita adikku sambil menggeser tubuhnya (kasurnya dilantai tanpa ranjang, dirumah ini memang kasurnya tebal tapi semua tak ada ranjangnya).

Akupun naik ke kasurnya masih dalam keadaan duduk.
“Bantalnya sebantal berdua ya? Biar kakak dekat sama kamu..”

“Hmmm.. ywdh gpp asal kakak jangan gigit Nita aja hehee”

“Kalau kakak gigit Nita, Nita bakal marah sama kakak?”

“Kayaknya sih gak bakalan bisa marah sama kakak, soalnya Nita sayang kak Rama…” Adikku tersenyum.

Sekilas pikiran kotor itu muncul lagi, penisku jadi semakin keras!. ‘ada apa dengan diriku ini? Mana mungkin aku menyetubuhi adik kandungku sendiri? Tapi penisku tidak mau mendengarkan kata hatiku, dia tetap bersikukuh malah semakin mengeras ingin merasakan tubuh hangat adikku’

Akhirnya aku pun tiduran dengan adikku sekasur sebantal berdua.
“Kakak boleh meluk kamu dek?”
“Boleh kak..”

Lalu ku peluk tubuh adikku dengan tanganku berada diperutnya, tangan adikku menindih tangan kiriku.
Penisku dengan pantatnya masih berjauhan, aku takut mengenai belahan pantatnya dan adikku takut menyadari bahwa aku bernafsu kepadanya.

Sambil ku peluk adikku, memang terasa hangat sekali tubuhnya.
“Dek, gak apa-apa kakak peluk kamu?”
“Nggak kok, malah Nita seneng dipeluk kakak”
“Iyaa sama dek, kakak juga kayaknya bakalan betah dan akan terus-terusan tidur sambil meluk kamu. Gak apa-apa kan?”
“He’emm boleh kak gpp” kata Nita mengangguk.

Semakin aku ngobrol dengan adikku, penisku jadi rada sulit ku kontrol. Posisi Nita tubuhnya meringkuk kayak udang, tentunya pantatnya seakan diberikan secara cuma-cuma untuk aku tempelkan.

Ingin sekali aku melihat vagina sama pantat Nita dari bawah, sebenarnya tinggal ku angkat saja dasternya lalu ku lepaskan celana dalamnya. Dengan posisi Nita yang meringkuk seperti udang, mudah saja sebenarnya. Tapi aku tetap bersabar dan berusaha bertahan, meskipun aku ingin sekali menghentakkan penisku menyundul vaginanya.

Nita pun akhirnya tidur juga, terdegar suara hembusan nafasnya yang sudah seperti terlelap. Aku pun tidak mau terburu-buru mengajak adikku untuk bersetubuh, ku peluk adikku, ku rapatkan pantatnya dengan selangkanganku, sehingga lututku menempel dibelakang lututnya yang ditekuk.

Segini pun aku sudah merasa bersyukur, untungnya aku dan Nita sama-sama memakai celana dalam, jika saja tidak, mungkin penisku sudah keluar masuk dari lobang sucinya.

Setelah ku paksakan, akhirnya aku bisa tidur juga sambil memeluk Nita dari belakang. Hingga udara dingin pun masuk ke kamar, perlahan ku membuka mata, ternyata adikku sedang memeluk tubuhku. Biarlah untuk malam pertama ini, aku memeluk atau dipeluk.

Pagi pun tiba aku masih memeluk adikku, perlahan aku lepaskan pelukanku, lalu berusaha menggerakkan badanku untuk bangkit. Ku raba penisku sudah mengerut lagi, ‘maaf tong! Bersabarlah dulu. Suatu saat nanti kamu akan aku masukkan kedalam vagina adikku, sabar ya?!’. Gumamku dalam hati sambil mengusap penisku.

Ketika aku keluar kamar, ayah ibu sudah tidak ada dirumah. Mereka mungkin sudah berangkat pergi memunguti sampah di TPA, tapi aku sudah di titip pesan oleh ayah agar aku jangan dulu memunguti sampah, sambil merawat Nita aku disuruh menyortir sampah plastik, botol dan besi lalu masukkannya kedalam karung yang berbeda.

Setelah mandi lalu memasak bubur buat nita, ketika sedang mengaduk-aduk Nita sudah bangun dari tidurnya. Dengan handuknya yang dililitkan ke tubuhnya, nita memelukku dari belakang.
“Kakak kok gak bangunin Nita sih..”

“Gak tega kakak bangunin kamu dek, udah baikan emang?” Kataku menoleh ke Nita sambil mengaduk bubur.

“Udah sembuh kayaknya kak, berkat kakak juga yang merawat Nita sampai sembuh , makasih ya kak udah merawat Nita.”

“Kan kakak sayang kamu dek, ini juga kakak masakin bubur buat kamu juga. Kalau kakak sakit kamu akan merawat kakak gak?”

“Ihh kakak kok ngomongnya gitu?! Ya pastilah kak, Nita akan merawat kakak, bila perlu sekalian Nita mandiin kakak..”

“Bagaimana kalau kamu kakak mandiin, mau gak?”

“Nggak ah! Malu. Emangnya Nita masih anak-anak dimandiin, malu ah udah gede”

“Gede apanya dek?” Kataku masih sambil mengaduk bubur.

“Gede semuanya kak.. ihh kakak mencing-mancing aku aja! Keceplosan nanti akunya!.. sudah ahh Nita mau mandi dulu!”

“Nanti abis mandi dimakan buburnya ya dek? Kakak dibelakang mau nyortir sampah dulu..”

“Iyaa kak nanti aku ikut bantuin..”

“Yakin dek gak mau kakak mandiin?”

“Malu kaaakk ihh.. dulu sih iya kita selalu mandi bersama. Nita pernah liat penis kakak mengerut kayak kedinginan hihihi”

“Nittaaa! kamu ya ngeledekin kakak ya..?! mau liat gak penis kakak sekarang gimana?”

“Udah tau kok..”

“Tau darimana?!” kataku penasaran.

“Semalam Nita ngerasain penis kakak menyundul pantat Nita pas kakak lagi tidur, gede banget hihihi”

“Masa sih? Perasaan kamu aja kali..”

“Beneran kak, penis kakak rasanya gede banget..”

“Itu kan baru perasaan kamu aja, kalau sudah lihat pasti kamu semakin yakin apa yang kamu rasakan semalam..”

“Sudah ahh aku mau mandi dulu..” sebelum adikku menutup pintu aku buru-buru ngomong. “Nanti malem tidur sekasur lagi atau seperti biasa?” “Terserah kakak aja mau tidur dimana, sama Nita lagi juga gpp” kata Nita tersenyum sambil menutup pintu.

“Dek, kakak boleh ngintip gak?!!”

“Kakak! Awas yaa kalau ngintip..!!”

“Sedikit aja yaa..?!”

“Gak boleh..!!” mata Nita melotot sambil cemberut menggemaskan.

“Ahh Adek mah gak sayang kakak..”

“Ihh kakak mah jangan bilang begitu?! Nita jadi gak tega..” kata Nita sambil mayun bibirnya dilobang pintu.

“Nggak kok, kakak becanda.. ywdh mandi sana.. nanti kakak masuk nih..!!”

“Iyaa kakak bawel…!!” Adikku menutup pintunya.

Tapi tetap aja aku penasaran dan mengintipnya di lobang kecil bekas paku dipintu dapur. Penisku sampai ngaceng melihat tubuh mungil adikku yang putih mulus itu, penisku sampai dibuat ngaceng olehnya.

Aku sudahi saja, percuma kalau ngintip saja bikin si Otong sengsara sakit pilek. Lalu aku kembali mengaduk bubur lagi sambil berusaha tetap tenang. Huhh!!

Setelah buburnya matang, aku tuangkan ke mangkok lalu aku kebelakang menyortir sampah.

Barang kotor dan berbau sudah menjadi pekerjaanku juga para tetanggaku disekitarnya, posisi TPA dengan rumahku padahal lumayan jauh, tapi baunya sampah busuk masih saja sampai kerumah ini terbawa angin.

Satu persatu ku pilah pilih sampah ku sortir, udara kering bercampur bau sampah terasa menyakiti hidung. Padahal sudah sedari aku kecil hidup seperti ini, tapi tetap saja tak membuat penciumanku kebal terhadap baunya.

“Kak Rama..?!!” Aku menoleh kearah sumber suara, ternyata adikku Anita datang pakai celana kolor dan kaosnya, sambil membawa secangkir kopi. Lalu kopi itu diletakkannya disampingku.
“Ehh adikku yang cantik udah sembuh sekarang.. boleh dong kakak minta dicium biar semangat kerjanya..”

“Lho tumben kak minta di cium?! Biasanya juga nggak..”

“Kakak sih gak maksa kok dek.. santai aja jangan dimasukan ke hati yaa..” tapi ternyata adikku menganggap lain kata-kataku.

Adikku terdiam entah apa yang sedang dipikirkannya, pelukannya semakin erat sehingga payudaranya yang terasa mengeras di punggungku semakin menekan. Aku mendengar desahan nafasnya yang membuat diriku nyaman.

Ketika aku sedang duduk fokus menyortir, tiba-tiba adikku Nita memeluk leherku seperti mau digendong, lalu mencium pipiku kanan dan kiri dan berkata, “semangat yaa kak, Nita sayang kakak. Kenapa baru sekarang sih kakak minta di cium?” Nita masih memeluk leherku, posisinya pasti membungkuk dan lagi nungging jika dilihat dari belakang.

“Kakak takut nanti kamu benci kakak dek, dan menjauhi kakak. Soalnya kakaknya takut disangka berbuat tak senonoh sama adikknya sendiri. Tadi kakak iseng aja, kamu mau ngelakuinnya gak? Ehh.. ternyata kamu cium kakak.. maaf yaa? Sekali ini saja kok” tanganku dan pandanganku masih fokus menyortir.

Hati adikku mungkin terasa meleleh oleh kata-kataku, dia terus bertahan memelukku dari belakang. Aku merasa hembusan nafas adikku seperti sengaja diarahkan ke leherku, aku melirik kearah Nita sambil pura-pura menyortir, dia menghirup aroma leherku beberapa kali, tapi tidak ditempelkannya hidungnya ke kulit leherku.

Lalu adikku berkata setelah merenung agak lama,
“Nanti setelah ini kakak akan aku cium setiap hari supaya semangat!, kakak juga boleh kok nyium Nita!. Nita gak bakalan marah kok sama kak Rama..”

“Seriusan nihh dek gak bakalan benci kakak atau marah sama kakak?!” Kataku meyakinkan dia.

Lalu diciumnya lagi pipiku.
“Tuhh kak, aku cium lagi kak rama, berarti aku serius, kakak boleh cium Nita..!”

“Sini mana pipinya, kakak mau cium kamu..”
Nita pun memberikan pipinya di sampingku.
*Cupcupcup* ku cium pipinya dua kali dan lehernya satu kali.

Adikku bergidik lehernya ketika kucium, dalam ciuman terakhir itu ada hisapan, gigitan dan jilatan menjadi satu. Aku tak menyangka diciuman terakhir itu, adikku jadi tertegun dengan bibirnya sampai menganga.

“Jangan marah ya dek, itu kamu yang nyuruh lho…”

“Sudah ya kak?? Yahh..” adikku menghela nafas.

“Kalau kakak nyium kamu terus-terusan nanti ada orang liat, kakak nyium adiknya hehee..”

Kami berdua akhirnya menyortir sampah yang berkarung-karung sampai sore, yang nantinya siap di jual ke penadah oleh ayah dibawa pakai gerobak.

Bersambung : Menanam Benih di Rahim Ibu dan Adikku Chapter 2

Comment