Derita Para Gadis Tawanan Chapter 3

A+ A-

Cerita Sex Bersambung Derita Para Gadis Tawanan

Kisah Derita Para Gadis Tawanan Chapter 3

? NOVELBASAH ? (WARNING): cerita berikut mengandung unsur sadisme dan penyiksaan. Bagi yg tidak suka dgn kedua unsur tersebut, mohon di-skip. Thanks.)

Semilir angin fajar membangunkan Ashley dari tidur singkatnya. Ia menemukan dirinya tergeletak di lantai sel yang dingin dan lembab. Rasa perih masih dapat ia rasakan pada vagina dan anusnya yang baru saja diperkosa habis2an oleh enam orang pria bejat yang menyewa Ashley semalam. Saat Ashley membuka matanya, ia dapat melihat payudaranya yang memerah akibat diremas2 secara kejam. Demikian juga dengan vaginanya yang membengkak akibat kekejaman pria2 bejat itu. Belum sempat Ashley memulihkan tenaganya setelah kejadian semalam, seorang penjaga masuk ke ruangan itu, lalu menarik Ashley keluar. Ternyata sudah saatnya bagi Ashley untuk kembali bekerja di pabrik senjata, meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan diliputi rasa sakit.

“Kamu kayak belom tidur gitu sih,” kata Elle, kakak kelas Ashley sewaktu masih di sekolah beberapa bulan yang lalu, yang kini menjadi rekan kerjanya di pabrik.
“Emang belom tidur, El. Rasanya kayak mau mati aja,” jawab Ashley lirih.
“Yang tabah ya..”
“Mau tabah sampe kapan lagi, El? Aku udah muak diperlakuin kayak budak seks kayak gini! Aku ngerasa lebih hina dari binatang!”
“Ashley…”
“Cukup, El. Aku harus pergi dari tempat ini!”

Ternyata Ashley cukup serius dengan perkataannya itu. Malam harinya, ia merencanakan usaha untuk kabur dari kamp tawanan itu. Apa mau dikata, jumlah penjaga di tempat itu terlalu banyak, sehingga usaha Ashley melarikan diri pun gagal dalam hitungan menit. Ia ditangkap oleh para penjaga saat hendak memanjat tembok yang mengelilingi kamp tawanan itu. Ashley kemudian diseret masuk ke dalam salah satu ruang penyiksaan.

“Dasar cewek ******! Elo kira elo masih punya harapan hidup bebas? Lo dan semua cewek di sini ditakdirin buat muasin kita seumur hidup lo!” bentak sang komandan sambil menampar pipi Ashley.
“Tarik meja ke sini, ikat pelacur ****** itu di atasnya!” perintah sang komandan kepada anak2 buahnya. Meja itu berukuran cukup besar untuk memuat seluruh tubuh Ashley di atasnya. Kedua tangan dan kaki Ashley diikat ke sudut2 meja itu sehingga tubuhnya yang telanjang bulat itu membentuk huruf X. Payudaranya yang montok terlihat sangat menggiurkan dalam posisi seperti itu, demikian juga dengan gundukan di antara selangkangannya yang tidak ditutupi rambut itu. Ashley hanya diam saja menerima perlakuan itu. Ia tahu bahwa jeritan dan rontaannya akan menambah nafsu para penyiksanya. Ia seolah sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada dirinya.

Sang komandan berjalan mengitari meja itu sambil mengagumi tubuh Ashley yang bersimbah keringat akibat lelah dan ketakutan. Sang komandan lalu berhenti di dekat ketiak Ashley yang sebelah kanan, lalu mendekati dan mengendusnya. Aroma ketiak Ashley yang berkeringat sangat merangsang sang komandan, sehingga ia menggelitiki ketiak Ashley yang terbuka lebar.

“Ahh, geli, tolongg, ampunnn..” ujar Ashley sambil menahan rasa geli pada ketiaknya. Sang komandan keasyikan menggelitiki kedua ketiak Ashley secara bergantian, sehingga Ashley tertawa-tawa tidak karuan. Mungkin itu adalah pertama kalinya Ashley tertawa selama beberapa bulan terakhir. Tubuhnya menggeliat-geliat di atas meja kayu itu.

“Nah gitu dong sekali2 senyum, kan tambah imut,” kata sang komandan tanpa menghentikan permainan tangannya. Ia lalu naik ke atas meja dan menindih tubuh Ashley, sambil tetap memainkan jarinya dengan lincah di ketiak dan puting susu Ashley. “Stop please, aku gak tahannn, ahhh…” pinta Ashley yang semakin menggelinjang tak karuan di atas meja. Setelah beberapa menit dikelitiki seperti itu, Ashley tidak dapat menahan lagi, sehingga akhirnya ia buang air kecil di atas meja itu. Air kencingnya mengenai pakaian sang komandan.

“Dasar pelacur kurang ajar! Berani2nya kencingin gua!” bentak sang komandan. Dengan marah ia berdiri, melepas ikat pinggangnya, lalu memecut selangkangan Ashley. “Aaaaaaahhh sakittt ampunnnn…” jerit Ashley kesakitan. Ujung ikat pinggang yang terbuat dari besi itu mengenai vagina Ashley, sehingga vaginanya memerah dan selangkangannya lecet. Tanpa kenal ampun, sang komandan mencambuk selangkangan Ashley sekali lagi, lalu sekali lagi.

“Bos, bukannya masih mau kita pake memeknya? Jangan diancurin dulu dong,” kata salah satu anak buahnya. Sang komandan menuruti nasihat anak buahnya, disambut dengan tarikan nafas lega Ashley. Sang komandan lalu melepaskan pakaiannya, sementara anak2 buahnya duduk untuk menanti gilirannya masing2. Sang komandan lalu naik ke atas meja itu, lalu menyodokkan penisnya yang telah tegang ke arah vagina Ashley. Desahan pelan keluar dari mulut Ashley, mungkin ini adalah batang penis keseratus yang memasuki liang kemaluannya semenjak ia berada di kamp tawanan ini. Ia dapat merasakan perih pada selangkangannya yang baru saja dicambuki. Sang komandan menggerak2an pinggulnya naik turun di atas tubuh Ashley, sambil meremas2 payudara Ashley dan menciumi wajah Ashley yang imut2 menggemaskan. Tidak heran apabila Ashley menjadi incaran teman2 pria di sekolahnya dulu.

Singkat cerita, keenam pria di ruangan itu selesai memperkosa Ashley dalam posisi seperti itu. Ada yang mengeluarkan spermanya di liang vagina Ashley, ada juga yang menyemprotkan spermanya di wajah dan payudara Ashley. Kecuali sang komandan yang mengoleskan spermanya di ketiak Ashley, sehingga sekali lagi Ashley menggeliat kegelian. “Oke Ashley, tadi adalah terakhir kalinya kamu merasakan nikmatnya disetubuhi laki2,” ujar sang komandan sambil mengenakan kembali pakaian tentaranya. Ashley tertegun mendengar perkataan itu. Di satu sisi ia merasa senang apabila tidak menerima perkosaan lagi seumur hidupnya. Di lain sisi, ia mengetahui bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya, sesuatu yang jauh lebih buruk daripada perkosaan.

“Lepaskan ikatan kakinya! Ikat kakinya ke atas!” perintah sang komandan. Anak2 buahnya lalu memindahkan kaki Ashley dari sudut2 meja ke tengah meja, sehingga sekarang kedua lutut Ashley hampir menyentuh payudaranya, sementara telapak kakinya menyentuh pinggulnya. Kini kedua kaki Ashley membentuk huruf M di atas meja itu. Dengan posisi mengangkang lebar layaknya katak yang hendak dibedah di laboratorium, bagian dalam vaginanya yang berwarna merah muda terpampang dengan jelas bagi orang2 yang berdiri di depannya.

“Ashley, malam ini kita akan belajar biologi. Kamu jangan pikir kita bangsa Utara adalah bangsa yang gak berpendidikan. Kita akan buktikan kalo kita juga jago, apalagi masalah kewanitaan hahahaha…”
Sang komandan lalu mencubit kedua bibir vagina Ashley, lalu menariknya hingga menyentuh bagian luar vaginanya. “Yang ini namanya labia, Ashley,” jelas sang komandan. “Supaya kamu ingat, saya beri tanda ya.” Sang komandan lalu mengambil pin yang telah disiapkan oleh anak buahnya, lalu menusukkannya ke labia Ashley hingga kini labianya yang sebelah kanan menempel dengan kulit luar vaginanya, seperti dua helai kain yang disatukan dengan jarum pentul. Ashley menjerit kesakitan seraya darah mengalir dari labianya yang ditusuk dengan pin itu. Sang komandan menambahkan satu pin lagi di labia Ashley yang sebelah kanan, lalu melakukan hal serupa dengan labia Ashley yang sebelah kiri. Kini liang vagina Ashley menganga lebar, sehingga bagian-bagian dalamnya terlihat dengan jelas. Ashley tak hentinya menangis dan mengguncang2kan tubuhnya karena rasa sakit yang luar biasa pada organ sensitifnya itu.

Tiba2 seorang penjaga masuk ke ruangan itu. “Boss, ada telepon penting dari Jendral. Tolong dijawab dulu,” kata penjaga itu. Sang komandan lalu menyuruh kedua anak buahnya untuk menjaga Ashley sementara sang komandan mengangkat telepon.

“Wah, enaknya kita apain nih?”
“Mending jangan diapa2in dulu, biar si Boss yang ngelanjutin nanti. Dia yang lebih jago masalah gini2an.”
“Tapi kan sayang kita biarinin nganggur begitu aja.”

Akhirnya kedua penjaga itu sepakat untuk keluar ruangan sebentar, lalu kembali seraya membawa kardus yang berisi benda menyerupai tongkat. Ternyata itu adalah tongkat setrum yang biasa digunakan kepolisian untuk melumpuhkan pelaku kriminal. Tongkat yang terbuat dari logam itu panjagnya sekitar 50 cm, dengan diameter kurang lebih 5 cm. Di pangkalnya terdapat baterai dan pengatur voltase setruman yang dapat diatur.

“Jangannnn, tolong jangan pakai itu!” teriak Ashley yang seolah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Permintaannya tidak digubris oleh para penjaga. Mereka lalu menyalakan tongkat setrum itu, lalu menyentuhkannya ke puting susu Ashley. Tubuh Ashley menggeliat2 akibat setruman pada puting susunya itu. Mereka terus memainkan tongkat setrum itu di atas tubuh Ashley, mulai dari payudara, ketiak, perut, paha, hingga akhirnya tongkat itu menyentuh klitoris Ashley. Tubuh Ashley berguncang hebat akibat rasa sakit bercampur geli pada vaginanya. Setelah beberapa saat, para penjaga itu lalu menyodokkan tongkat setrum itu masuk ke dalam liang vagina Ashley.

“Aaaaakhhhhh!!!” Ashley melolong panjang saat tongkat logam itu masuk ke dalam vaginanya, seolah merobek2 bagian dalam vaginanya. Setruman dari tongkat itu menambah rasa sakit pada vagina Ashley, sekaligus memberikan sensasi yang aneh bagi Ashley. Mereka membenamkan tongkat logam itu dengan kasar ke dalam vagina Ashley, hingga tidak dapat dimasukkan lebih dalam lagi, seolah tongkat itu sudah sampai ke rahimnya. Sodokan mereka yang kasar itu menyebabkan darah mengalir keluar dari vagina Ashley yang meraung2 kesakitan. Mereka lalu memasukkan tongkat satu lagi ke liang dubur Ashley yang kini posisinya berada tidak jauh di bawah liang vaginanya, akibat posisi tubuhnya yang terikat seperti itu. Kedua tongkat itu seolah beradu di dalam tubuh Ashley yang malang itu. Mereka membiarkan kedua tongkat itu berada di dalam vagina dan anus Ashley selama hampir setengah jam, hingga sang komandan datang kembali ke ruangan itu.

“Wah ide kalian kreatif juga ya. Gak sia2 gua ngajarin lo selama ini,” puji sang komandan sambil menatap Ashley yang lemas tak berdaya. Selama setengah jam itu ia berkali2 pingsan akibat rasa sakit yang luar biasa pada selangkangannya, namun setiap kali ia dibangunkan dengan tamparan pada pipinya. Sang komandan lalu mematikan kedua tongkat setrum itu, lalu mengeluarkannya dari vagina dan anus Ashley. Kedua tongkat itu dilumuri oleh darah dalam jumlah yang sangat banyak, demikian juga dengan permukaan meja itu yang digenangi darah. Vagina dan anus Ashley menganga selebar diameter tongkat tadi, sehingga nampak seperti gua kecil.

“Kita lanjutkan pelajaran kita ya, Ashley,” ujar sang komandan. Ashley menggeleng2kan kepalanya tanpa sanggup berkata2 lagi. Sang komandan lalu mencubit klitoris Ashley dan menariknya keras2, disambut dengan rintihan pelan dari mulut Ashley yang sudah sangat lemas itu. “Yang ini namanya klitoris. Konon katanya di sinilah letak kepuasan wanita saat berhubungan intim. Seperti yang aku bilang tadi, kamu gak akan lagi merasakan nikmatnya seks, karena mulai malam ini kamu akan berpisah dengan daging kecil ini.”

“Jangaaaannn Tuan, tolong hentikan!” teriak Ashley sambil berusaha memberontak, namun tubuhnya terlalu lemas untuk melawan. Sang komandan lalu mengambil pisau, lalu mengiris klitoris Ashley perlahan2, sehingga akhirnya terputus dari vaginanya. Ashley menjerit sekuat tenaga, jeritannya itu terdengar hingga ke ruangan di mana teman2nya sedang beristirahat, sehingga membangunkan mereka dari tidurnya.

“Oke Ashley, kita mau lanjutkan pelajaran hari ini?” tanya sang komandan. “Cukup Tuan, tolong bunuh aku sekarang,” jawab Ashley dengan suara yang sangat lemah, bercampur dengan isak tangisnya. “Baik, kalau itu maumu. Kita sudahi pelajaran hari ini. Tapi sebelum kita selesai, kita bersihkan dulu ya alat peraganya.” Ia lalu mengambil sebuah sikat yang terbuat dari kawat, lalu menyikat dinding vagina Ashley yang menganga lebar. Cara sang komandan menyodok2kan sikat itu luar biasa kasar dan tanpa belas kasihan. Darah pun mengalir keluar dari vagina Ashley yang kini bahkan tidak sanggup untuk menjerit kesakitan. Bagian selangkangan Ashley dipenuhi oleh darah yang mengalir memenuhi meja itu, lalu menetes ke lantai. Rintihan2 lemah keluar dari bibirnya yang berdarah akibat digigitnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang ia alami. Bahkan para penjaga di ruangan itu menutup mata mereka karena tidak tahan lagi menatap adegan penyiksaan yang sadis itu. Ingin rasanya mereka menghentikannya, namun mereka tidak dapat menahan nafsu komandan mereka yang agak kelainan itu. Mereka juga menyesal karena sempat ikut menyiksa Ashley. Setelah puas, sang komandan lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Sebelum keluar, ia berpesan kepada anak buahnya, “Pastikan teman2nya menonton rekaman yang tadi, supaya mereka tahu apa resikonya kalo berani melawan kita!”

“Siap, Komandan!” jawab kedua anak buah tersebut. Mereka lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ashley. “Maafkan boss kita yang sadis itu ya. Kita juga gak tega liat kamu disiksa sampe kayak begini. Sekarang kita malah merasa bersalah udah ngelakuin hal sesadis itu kepada kaum wanita.” Ashley lalu mengangguk pelan, membuka sedikit kelopak matanya yang sedari tadi terpejam, lalu tersenyum kecil. Kemudian ia menutup kembali matanya dan tergolek tidak sadarkan diri.

Bersambung :

Comment